Tampilkan postingan dengan label Safety. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Safety. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juni 2013

DAMPAK NEGATIF HUJAN ASAM


Hujan Asam : Pengertian, Penyebab, Dampak dan Pencegahan

Hujan Asam atau Acid Rain

Banyak dari kita sering mendengar tentang hujan asam. Namun banyak dari kita juga tidak mengetahui apa itu hujan asam serta apa perbedaan hujan asam dengan hujan air biasa dan apa penyebab terjadinya hujan asam. Serta tidak mengetahui bahaya dan cara pencegahan hujan asam.

Acid Rain Hujan Asam

Hujan asam adalah hujan dengan pH air kurang dari 5,7 sedangkan pH normal air 7. Hujan asam biasanya terjadi karena adanya peningkatan kadar asam nitrat dan sulfat dalam polusi udara. Hal ini biasanya terjadi karena peningkatan emisi sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) di atmosfer.

Polutan asam yang dapat menyebabkan hujan asam adalah polutan bahan bakar fosil (misalnya, minyak, batu bara, dll) yang ditemukan dalam kadar tinggi dari knalpot mesin pembakaran internal (misalnya knalpot mobil). Hujan asam juga dapat terjadi dalam bentuk lain seperti salju.

Hujan asam terjadi ketika gas-gas yang tercemar menjadi terjebak di dalam awan. Awan bisa melayang hingga ratusan bahkan ribuan kilometer sebelum akhirnya melepaskan hujan asam.

Hujan asam Sebenarnya sudah lama diselidik. Pada abad 19 di Inggris dilaporkan bahwa hutan yang jatuhnya air hujan searah dengan lokasi sebuah pabrik telah terjadi kerusakan yang berat. Hal ini membuat penasaran seorang ahli kimia Inggris asal Scotlandia bernama Robert Angus Smith (15 February 1817�12 May 1884) di tahun 1852. Karenanya Ia terkenal sebagai �Bapak Hujan Asam�. Penelitiannya pada polusi udara pada tahun 1852, menemukan apa yang kemudian dikenal sebagai hujan asam. Hujan asam adalah hujan dengan pH air kurang dari 5,7. Hujan asam biasanya terjadi karena adanya peningkatan kadar asam nitrat dan sulfat dalam polusi udara. Hal ini biasanya terjadi karena peningkatan emisi sulfur dioksida dan nitrogen oksida di atmosfer.

Secara alami hujan memang bersifat asam dengan pH antara 5,6 sampai 6,2 karena adanya kandungan CO2 di udara. CO2 di udara bereaksi dengan uap air membentuk asam lemah yaitu asam karbonat (H2CO3). Namun keasaman yang disebabkan oleh H2CO3 ini dianggap normal karena jenis asam ini bermanfaat membantu melarutkan mineral tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang. Berbeda dengan kandungan H2SO4 dan HNO3 yang merupakan asam kuat yang dapat merusak jaringan hidup.

Apa ciri-ciri hujan asam?
Hujan asam tidak memiliki ciri-ciri khusus yang bisa menjadi pembeda dari hujan air biasa karena warna dan rasa airnya hampir sama. Terkadang hujan asam juga terjadi dalam bentuk lain seperti hujan salju. Namun, beberapa studi kesehatan menyebutkan bahwa polusi yang menyebabkan hujan asam bisa meningkatkan resiko seseorang untuk terserang gangguan jantung dan paru-paru.
Tapi kulit bisa merasakan hujan asam jika air hujan yang mengenai kulit langsung membuat gatal-gatal, memerah. Untuk orang dengan kekebalan tubuh rendah akan langsung mengalami pusing.

Berikut beberapa dampak dari hujan asam terhadap lingkungan dan makhluk hidup:


1. Hujan asam dengan kadar keasaman tinggi dapat menyebabkan gangguan pernapasan pada manusia. Kabut yang mengandung asam sulfat bersama-sama dengan udara terhisap dan masuk ke dalam saluran pernapasan manusia dapat merusak paru-paru bahkan dapat menyebabkan luka bakar pada kulit.
Dampak hujan asam pada manusia

2. Menyebabkan korosi dan merusak bangunan. Hujan asam dapat mempercepat proses korosi. Proses korosi (perkaratan) dapat terjadi pada beberapa material dari logam. Korosi adalah peristiwa perusakan logam akibat terjadinya reaksi kimia antara logam dengan lingkungan yang menghasilkan produk yang tidak diinginkan. Lingkungan tersebut dapat berupa asam, basa, oksigen dalam udara, oksigen dalam air, atau zat kimia lainnya. Produk yang tidak diinginkan ini adalah karat. Ciri-ciri karat adalah berupa bercak coklat tua (lihat gambar dibawah)
Dampak hujan asam pada bangunan
Gambar. (a) Paku berkarat, (b) tugu batu rusak akibat hujan asam
Keberadaan karat ini sangat merugikan dan pada kondisi tertentu dapat mengancam keselamatan jiwa. Logam yang mengalami korosi ini biasanya akan menjadi rapuh dan keropos. Dan hal ini tentu sangat berbahaya jika yang mengalami korosi adalah jembatan dari besi. Jembatan lama kelamaan akan rapuh dan keropos. Untuk mencegah timbulnya korosi ini kita dapat melakukan beberapa cara salah satunya yaitu dengan pengecatan.

Selain korosi pada logam hujan asam juga dapat merusak bangunan terutama bangunan yang terbuat dari batuan (lihat gambar 14b) . Hal ini disebabkan karena hujan asam akan melarutkan kalsium karbonat dalam batuan tersebut dan membuatnya batuan menjadi mudah lapuk.

3. Tumbuhan menjadi layu, kering dan mati. Hujan asam yang larut bersama nutrisi di dalam tanah akan menyapu kandungan nutrisi dalam tanah sebelum tumbuhan sempat mempergunakannya untuk tumbuh. Zat kimia beracun seperti aluminium juga akan terlepas dan bercampur dengan nutrisi. Apabila nutrisi ini diserap oleh tumbuhan akan menghambat pertumbuhan dan mempercepat daun berguguran, kemudian tumbuhan akan terserang penyakit, kekeringan, dan mati.
Dampak hujan asam pada tumbuhan

4. Merusak ekosistem perairan. Hujan asam yang jatuh pada danau akan meningkatkan keasaman danau. Keasaman danau yang meningkat menyebabkan beberapa spesies biota air mati karena tidak mampu bertahan di lingkungan asam. Meskipun  ada beberapa spesies yang dapat bertahan hidup tetapi karena rantai makanan terganggu maka spesies tersebut dapat mengalami kematian pula.
Dampak hujan asam pada perairan

Cara mencegah hujan asam
Hujan asam sebagai salah satu permasalahan yang serius terhadap lingkungan perlu diatasi secara terpadu. Beberapa cara sudah dilakukan di negara-negara maju  dengan membuat inovasi maupun formula peralatan industri yang mampu menetralisir polutan sebelum sampai ke udara dan bereaksi dengan oksigen di udara. Penggunaan Flue gas desulfurization (FGD) mampu menetralisir belerang sebelum sampai ke udara merupakan salah satu cara yang cukup populer dilakukan saat ini, di negera-negara maju seperti Amerika Serikat dan Negara maju lainnya.

Upaya Pengendalian Deposisi Asam

Untuk mengendalikan deposisi asam ialah menggunakan bahan bakar yang mengandung sedikit zat pencemae, menghindari terbentuknya zat pencemar saar terjadinya pembakaran, menangkap zat pencemar dari gas buangan dan penghematan energi.

a. Bahan Bakar Dengan kandungan Belerang Rendah
Kandungan belerang dalam bahan bakar bervariasi. Masalahnya ialah sampai saat ini Indonesia sangat tergantung dengan minyak bumi dan batubara, sedangkan minyak bumi merupakan sumber bahan bakar dengan kandungan belerang yang tinggi.

Penggunaan gas alam akan mengurangi emisi zat pembentuk asam, akan tetapi kebocoran gas ini dapat menambah emisi metan. Usaha lain yaitu dengan menggunakan bahan bakar non-belerang misalnya metanol, etanol dan hidrogen. Akan tetapi penggantian jenis bahan bakar ini haruslah dilakukan dengan hati-hati, jika tidak akan menimbulkan masalah yang lain. Misalnya pembakaran metanol menghasilkan dua sampai lima kali formaldehide daripada pembakaran bensin. Zat ini mempunyai sifat karsinogenik (pemicu kanker).

b. Mengurangi kandungan Belerang sebelum Pembakaran
Kadar belarang dalam bahan bakar dapat dikurangi dengan menggunakan teknologi tertentu. Dalam proses produksi, misalnya batubara, batubara diasanya dicuci untukk membersihkan batubara dari pasir, tanah dan kotoran lain, serta mengurangi kadar belerang yang berupa pirit (belerang dalam bentuk besi sulfida( sampai 50-90% (Soemarwoto, 1992).

c. pengendalian Pencemaran Selama Pembakaran
Beberapa teknologi untuk mengurangi emisi SO2 dan Nox pada waktu pembakaran telah dikembangkan. Slah satu teknologi ialah lime injection in multiple burners (LIMB). Dengan teknologi ini, emisi SO2 dapat dikurangi sampai 80% dan NOx 50%.

Caranya dengan menginjeksikan kapur dalam dapur pembakaran dan suhu pembakaran diturunkan dengan alat pembakar khusus. Kapur akan bereaksi dengan belerang dan membentuk gipsum (kalsium sulfat dihidrat). Penurunan suhu mengakibatkan penurunan pembentukan Nox baik dari nitrogen yang ada dalam bahan bakar maupun dari nitrogen udara.

Pemisahan polutan dapat dilakukan menggunakan penyerap batu kapur atau Ca(OH)2. Gas buang dari cerobong dimasukkan ke dalam fasilitas FGD. Ke dalam alat ini kemudian disemprotkan udara sehingga SO2 dalam gas buang teroksidasi oleh oksigen menjadi SO3. Gas buang selanjutnya "didinginkan" dengan air, sehingga SO3 bereaksi dengan air (H2O) membentuk asam sulfat (H2SO4). Asam sulfat selanjutnya direaksikan dengan Ca(OH)2 sehingga diperoleh hasil pemisahan berupa gipsum (gypsum). Gas buang yang keluar dari sistem FGD sudah terbebas dari oksida sulfur. Hasil samping proses FGD disebut gipsum sintetis karena memiliki senyawa kimia yang sama dengan gipsum alam.

d. Pengendalian Setelah Pembakaran
Zat pencemar juga dapat dikurangi dengan gas ilmiah hasil pembakaran. Teknologi yang sudah banyak dipakai ialah fle gas desulfurization (FGD) (Akhadi, 2000. Prinsip teknologi ini ialah untuk mengikat SO2 di dalam gas limbah di cerobong asap dengan absorben, yang disebut scubbing (Sudrajad, 2006). Dengan cara ini 70-95% SO2 yang terbentuk dapat diikat. Kerugian dari cara ini ialah terbentuknya limbah. Akan tetapi limbah itu dapat pula diubah menjadi gipsum yang dapat digunakan dalam berbagai industri. Cara lain ialah dengan menggunakan amonia sebagai zat pengikatnya sehingga limbah yang dihasilkan dapat dipergunakan sebagi pupuk.

Selain dapat mengurangi sumber polutan penyebab hujan asam, gipsum yang dihasilkan melalui proses FGD ternyata juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, misal untuk bahan bangunan. Sebagai bahan bangunan, gipsum tampil dalam bentuk papan gipsum (gypsum boards) yang umumnya dipakai sebagai plafon atau langit-langit rumah (ceiling boards), dinding penyekat atau pemisah ruangan (partition boards) dan pelapis dinding (wall boards).

Amerika Serikat merupakan negara perintis dalam memproduksi gipsum sintetis ini. Pabrik wallboard dari gipsum sintetis yang pertama di AS didirikan oleh Standard Gypsum LLC mulai November tahun 1997 lalu. Lokasi pabriknya berdekatan dengan stasiun pembangkit listrik Tennessee Valley Authority (TVA) di Cumberland yang berkapasitas 2600 mega watt.

Produksi gipsum sintetis merupakan suatu terobosan yang mampu mengubah bahan buangan yang mencemari lingkungan menjadi suatu produk baru yang bernilai ekonomi. Sebagai bahan wallboard, gipsum sintetis yang diproduksi secara benar ternyata memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan gipsum yang diperoleh dari penambangan. Gipsum hasil proses FGD ini memiliki ukuran butiran yang seragam. Mengingat dampak positifnya cukup besar, tidak mustahil suatu saat nanti, setiap PLTU batu bara akan dilengkapi dengan pabrik gipsum sintetis.

d. Mengaplikasikan prinsip 3R (Reuse, Recycle, Reduce)
Hendaknya prinsip ini dijadikan landasan saat memproduksi suatu barang, dimana produk itu harus dapat digunakan kembali atau dapat didaur ulang sehingga jumlah sampah atau limbah yang dihasilkan dapat dikurangi. Teknologi yang digunakan juga harus diperhatikan, teknologi yang berpotensi mengeluarkan emisi hendaknya diganti dengan teknologi yang lebih baik dan bersifat ramah lingkungan. Hal ini juga berkaitan dengan perubahan gaya hidup, kita sering kali berlomba membeli kendaraan pribadi, padahal transportasilah yang merupakan penyebab tertinggi pencemaran udara. Oleh karena itu kita harus memenuhi kadar baku mutu emisi, baik di industri maupun transportasi.

Rabu, 03 April 2013

Safety di Pertambangan Uranium


Keselamatan Kerja di Pertambangan Uranium

Area Radiasi

  • Telah ada lebih dari 40 tahun pengalaman dalam menerapkan peraturan keselamatan radiasi internasional di tambang uranium.
  • Peraturan keselamatan radiasi di Australia dan Kanada saat ini adalah yang paling komprehensif dan ketat di dunia.
  • Kadar radiasi di tambang uranium Australia dan Kanada baik dalam batas-batas peraturan.
  • Perusahaan pertambangan uranium umumnya telah mengambil langkah-langkah aktif untuk mengurangi dosis radiasi di manapun dan kapanpun mereka bisa, dan sukarela mengadopsi rekomendasi internasional paling baru pada batas kadar jauh sebelum mereka menjadi bagian dari peraturan.

Semua dari kita menerima sejumlah kecil radiasi sepanjang waktu dari sumber alami seperti radiasi kosmik, batu, tanah dan udara. Penambangan uranium tidak meningkatkan ini discernably untuk masyarakat umum, bagi orang-orang Aborigin yang tinggal di dekat tambang di wilayah Australia, atau untuk orang lain di luar industri.

Sebuah takaran/dosis adalah jumlah radiasi medis yang signifikan diterima seseorang.

Di Australia, operasi penambangan yang dilakukan di bawah Pedoman Praktek negara dan Panduan Keselamatan untuk Perlindungan Radiasi dan Pengelolaan Limbah Radioaktif di Pertambangan dan Pengolahan Mineral, dikelola oleh pemerintah negara (dan menerapkan juga untuk operasi mineral pasir). Di Kanada, berlaku peraturan Komisi Keselamatan Nuklir Kanada. Di negara lain ada pengaturan serupa untuk menetapkan standar kesehatan bagi radiasi gamma, menghirup gas radon, serta untuk konsumsi dan menghirup bahan radioaktif. Standar berlaku untuk pekerja dan kesehatan masyarakat.

Produk dari penambangan uranium biasanya konsentrat uranium oksida - U3O8 - yang dikirim dari tambang di drum 200 liter. Ini hampir tidak radioaktif, tetapi memiliki toksisitas kimia yang mirip untuk menanganinya, tindakan pencegahan kebersihan sehingga pekerjaan diambil sama dengan yang di smelter timah. Sebagian besar radioaktivitas dari bijih berakhir di tailing.

Berdasarkan standar proteksi radiasi
Dalam prakteknya, proteksi radiasi didasarkan pada pemahaman bahwa peningkatan kecil dari tingkat alami paparan tidak mungkin berbahaya tetapi harus dijaga agar tetap minimum. Untuk mempraktekkan hal ini Komisi Internasional untuk Perlindungan Radiologi (ICRP) telah menetapkan standar yang direkomendasikan perlindungan (baik untuk anggota masyarakat dan para pekerja dari radiasi) didasarkan pada tiga prinsip dasar:
  • Justifikasi. Tidak ada praktek yang melibatkan paparan radiasi seharusnya diadopsi kecuali menghasilkan keuntungan bersih untuk mereka yang terpapar atau masyarakat pada umumnya.
  • Optimisasi. Takaran radiasi dan risiko harus dijaga serendah mungkin yang bisa dicapai as low as reasonably achievable (ALARA), faktor ekonomi dan sosial yang diperhitungkan.
  • Batasan. Pemaparan individu harus tunduk pada Sebuah kadar atau resiko batas di atas yang risiko dari radiasi akan dianggap tidak dapat diterima.
Prinsip-prinsip ini berlaku untuk potensi bagi pemaparan disengaja serta pemaparan yang normal sudah diprediksi.

Mendasari adalah penerapan "hipotesis linear" didasarkan pada gagasan bahwa setiap tingkat dosis radiasi, tidak peduli seberapa rendah, melibatkan kemungkinan risiko terhadap kesehatan manusia. Asumsi ini memungkinkan "faktor risiko" berasal dari studi dosis radiasi yang tinggi untuk populasi (misalnya dari korban bom Jepang) yang akan digunakan dalam menentukan risiko untuk individu dari dosis rendah (ICRP Publication 60). Namun berat dari bukti ilmiah tidak menunjukkan adanya risiko kanker atau efek langsung pada dosis di bawah ablout 50 millisievert (mSv) per tahun.

Keselamatan catatan tentang industri pertambangan uranium yang baik. Catatan dosis radiasi disusun oleh perusahaan pertambangan di bawah pengawasan pihak berwenang telah menunjukkan secara konsisten bahwa karyawan perusahaan pertambangan tidak terkena Takaran dari radiasi yang melebihi batas. Dosis maksimum yang diterima adalah sekitar setengah dari 20 mSv / tahun serta batas rata-rata adalah sekitar sepersepuluh dari itu. (Hal ini sebanding dengan dosis alami hingga 50 mSv / tahun untuk beberapa tempat di India dan Eropa, tanpa efek samping yang jelas, dan rata-rata pemaparan dari 750 mSv / tahun di beberapa tambang Jerman Timur 1946-1954, yang mengakibatkan ribuan kasus kanker paru-paru.)

Mencapai keselamatan radiasi yang efektif
Meskipun uranium itu sendiri hampir tidak radioaktif, bijih yang ditambang harus dipandang sebagai potensial berbahaya karena produk pembusukan uranium, terutama jika itu adalah bijih bermutu tinggi. Radiasi gamma datang terutama dari isotop bismut dan timah dalam seri pembusukan uranium. Bahaya radiasi yang terlibat mirip dengan di banyak pertambangan pasir dan operasi pengolahan mineral.

Sejumlah tindakan pencegahan yang diambil di tambang uranium untuk melindungi kesehatan pekerja:
  • Debu yang dikendalikan, sehingga dapat meminimalkan menghirup gamma-atau alpha-memancarkan mineral. Dalam prakteknya debu adalah sumber utama paparan radiasi dalam memotong tambang uranium terbuka dan di area pabrik.
  • Paparan radiasi para pekerja di areal tambang, pabrik dan tailing dibatasi. Pada prakteknya, tingkat radiasi dari bijih dan tailing biasanya sangat rendah. Pada Olimpic Dam, paparan gamma langsung terdiri dari sekitar setengah dosis para penambang 'dan bagi mereka di pabrik, seperempatnya.
  • Paparan Radon daughter minimal dalam merupakan tambang terbuka karena ada ventilasi alami yang cukup untuk menghilangkan gas radon. Pada Ranger tingkat radon jarang melebihi satu persen dari tingkat diijinkan untuk paparan kerja terus menerus. Dalam sebuah tambang bawah tanah sistem dipaksa-ventilasi yang baik diperlukan untuk mencapai hasil yang sama, - pada dosis dari radiasi Olympic Dam di tambang dari radon putri dijaga sangat rendah, dengan rata-rata kurang dari 1mSv/yr. Takaran Kanada (di tambang dengan bijih bermutu tinggi) rata-rata sekitar 3 mSv / tahun.

Standar kebersihan ketat diberlakukan pada pekerja penanganan konsentrat uranium oksida. Jika tertelan memiliki racun kimia yang mirip dengan timbal oksida (Kedua timbal dan uranium bersifat toksik dan mempengaruhi ginjal. Tubuh semakin menghilangkan sebagian besar Pb atau U, melalui urin). Akibatnya, tindakan yang sama diambil seperti dalam smelter timah, dengan menggunakan pelindung pernapasan di daerah tertentu yang diidentifikasi oleh pemantauan udara.

Radiasi peraturan keselamatan di Australia
Ketika era saat penambangan uranium mulai di Australia pada 1970-an, peninjauan kerangka peraturan untuk keselamatan radiasi dilakukan. Hal ini mengakibatkan produksi tahun 1975 Commonwealth mengenai Perlindungan Radiasi di Pertambangan dan Penggilingan Bijih Radioaktif ('Health Code'). Pedoman Kesehatan dirumuskan dari rekomendasi yang dibuat oleh Komisi Internasional Radiological Protection (ICRP) dan batas-batas dosis radiasi yang diadopsi oleh Kesehatan Nasional dan Medical Research Council (NHMRC). Itu direvisi pada tahun 1980 dan lagi pada tahun 1987.

Standar perlindungan Radiasi
Setelah ICRP-60 rekomendasi yang diterbitkan pada tahun 1991, NHMRC dan Komisi Kesehatan & Keselamatan Nasional bersama-sama mempersiapkan Rekomendasi Australia yang baru untuk membatasi paparan radiasi pengion dan Standar Nasional untuk membatasi pemaparan dalam pekerjaan. Ini sesuai dengan Standar Keselamatan Dasar untuk proteksi radiasi yang diadopsi pada tahun 1994 oleh berbagai lembaga PBB.

Revisi ambang batas adalah 20 millisieverts per tahun rata-rata selama lima tahun berturut-turut. (Batas Paparan untuk masyarakat umum dari kegiatan yang berhubungan dengan radiasi tetap pada 1 mSv per tahun, yang kurang dari background radiasi rata-rata dari lingkungan.) Maskapai rekomendasi NHMRC dimasukkan dalam kode direvisi pada tahun 2005.

Sejak awal 1990-an, semua perusahaan pertambangan telah secara sukarela setuju untuk mengadopsi Rekomendasi ICRP-60, tanpa menunggu revisi lengkap dari Hukum Kesehatan yang muncul pada tahun 2005.


Sumber : www.world-nuclear.org

Sabtu, 09 Maret 2013

Pendahuluan - Pengelolaan Limbah Tambang


Pendahuluan
Pengelolaan Limbah Tambang


1) Limbah Padat dan B3

Perusahaan harus mengidentifikasi & mendaftar semua limbah (padat & B3) yang ada di area kerja (ex: oli bekas & aki bekas), setelah itu dilakukan evaluasi resiko setiap jenis limbah B3 dan dibuat SOP ( yang memenuhi semua syarat hukum, peraturan perundangan yang berlaku & peraturan perusahaan) untuk mengendalikan limbah B3 yang ada
Pestisida, Asbes,
Limbah karet tidak termasuk B3 dan tidak boleh dibakar


Beberapa Contoh Limbah Padat
Pengelolaan Limbah Tambang


Limbah Padat Berbentuk Gel
Pengelolaan Limbah Tambang


2) Air Asam Tambang (AAT) /Acid Mining Drainage (AMD)
Pengelolaan Limbah Tambang
AMD umumnya muncul dari batuan yang mengandung pyrite, yg jika terekspos O2 (udara) saat penambangan maka akan teroksidasi membentuk asam sulfat. Jika ada curah hujan yang cukup maka asam akan menimbulkan timbunan dalam bentuk lindi (leachate). Proses tersebut dinamakan AMD


Beberapa contoh limbah tamabang
Pengelolaan Limbah Tambang

Pengelolaan Limbah Tambang

Pengelolaan Limbah Tambang

Pengelolaan Limbah Tambang

3) Limbah Cair

Pengelolaan limbah cair seperti Pit wastewater, mine tailing dam biasa dilakukan melalui settling pond. Sebuah settling pond adl kolam yang digunakan utk mengendapkan Lumpur & sisa asam yg lolos dr proses netralisai AMD.
Terkadang yang lebih berbahaya adalah limbah dari tambang mineral yang banyak mengandun glogam berat
Terurainya garam yang ada di tanah (saline waste)

Limbah Cair dari Pit
Pengelolaan Limbah Tambang

Beberapa Simbol Limbah Berbahaya
Pengelolaan Limbah Tambang
Arti: Limbah B3 (Bahan Berbahaya Beracun) Mudah Meledak
Keterangan: Dipasang pada kemasan limbah B3 yang mudah meledak, misalnya : Buangan limbah dari pabrik peledak

Limbah B3 Cairan Mudah Terbakar
Pengelolaan Limbah Tambang
Dipasang pada kemasan limbah B3 cair yang mudah terbakar secara spontan misalnya : Buangan pelarut benzene, toluene, aceton

Limbah B3 Padatan Mudah Terbakar
Pengelolaan Limbah Tambang
Dipasang pada kemasan limbah B3 padatan yang bersifat mudah terbakar secara spontan Misalnya : buangan magnesium

Limbah B3 Reaktif
Pengelolaan Limbah Tambang
Dipasang pada kemasan limbah B3 yang akan mengalami reaksi hebat jika bercampur dengan bahan yang lain. Misalnya : perklorat, metil keton peroksida

Limbah B3 Beracun
Pengelolaan Limbah Tambang
Dipasang pada kemasan limbah B3 yang bersifat meracuni, melukai atau membuat cacat sampai membunuh mahluk hidup baik jangka pendek atau panjangmisalnya : minyak pelumas bekas, sisa pestisida dalam wadahnya

Limbah B3 Infeksi
Pengelolaan Limbah Tambang
Dipasang pada kemasan limbah B3 yang mengandung atau terinfeksi kuman penyakit Misalnya : Jarum Suntik bekas, Bekas Perban.

Limbah B3 Korosi
Pengelolaan Limbah Tambang
Dipasang pada kemasan limbah B3 Limbah yang dalam kondisi asam atau basa (pH < dari 2 atau pH > dari 12.5) dapat menyebabkan nekrosis (terbakar) pada kulit atau dapat mengkaratkan (mengkorosikan) logam. Misalnya : sisa asam cuka , sisa asam cuka.